• Melatih Balita Sabar?

    Judul tersebut diatas saya beri tanda tanya karena apakah perlu anak balita diajarkan kesabaran. Saya buat tulisan ini bukan karena perlu atau tidak perlu, tapi karena saya sangat tidak suka mendengar ada orang tua yang bilang ke anaknya: “Yang sabar dong nak, jangan buru-buru makannya.”atau “Sebentar adek, yang sabar dong!” ketika anak mereka susah diatur.
    Misalnya waktu sedang memakai baju, anak kecil biasanya pingin cepet-cepet karena keburu melanjutkan main mereka, sehingga ibunya biasanya jadi kerepotan memakaikan baju. Atau ketika anak sedang makan makanan kesukaan mereka, biasanya yang di mulutnya belum habis sudah mengambil makanan yang di piring lagi.
    Apakah benar anak-anak itu berbuat demikian karena kurang sabar? Atau jangan-jangan justru orang tua mereka yang sebenarnya tidak sabar?

    Anak seumuran itu (balita) menurut saya sudah pasti tidak mengerti apa itu sabar. Tapi mereka sudah bisa dilatih logika, diajak bernalar, dijelaskan mengenai sebab akibat. Orang tua cukup mengatakan “Makannya pelan-pelan nak, nanti keselek” atau “Pake baju dulu ya dek biar ganteng, ntar baru main lagi”. Tentu tidak hanya sekali mengatakannya, tapi berulang kali. Jika anak sampai keselek makannya dan orang tua menasehatinya lagi maka anak akan berpikir  yang diucapkan orang tuanya benar dan itu akan diingatnya.
    Kenapa orang tua lebih sering menyuruh anaknya untuk sabar daripada menasehatinya dengan logika yang sangat mudah? Jawabannya cuma satu; karena orang tuanya tidak sabar.

    Orang tua pasti ingin anaknya pintar makan sendiri dengan rapi atau ketika disuapi nurut tidak minta macem-macem. Tapi orang tua kurang sabar untuk mendidik anaknya menjadi anak yang nurut ketika disuapi; kurang telaten mengajari anaknya makan sendiri, sehingga ketika anaknya makan terburu-buru bukannya mengajari anaknya lagi tapi malah menyuruhnya sabar.

    Sewaktu anak bermain, kadang-kadang suka kesal karena misalnya: legonya tidak bisa disusun seperti keinginan, mobil-mobilannya tidak bisa didorong karena rodanya macet; dan mereka biasanya teriak-teriak, kemudian orang tuanya akan bilang “Sabar dong nak, ntar mainannya tambah rusak”. Andaikan orang tuanya berkata seperti itu berulang kali apakah anak akan sadar dan menghentikan kekesalannya? Menurut saya tentu saja tidak. Lagi-lagi karena orang tua kurang sabar, mungkin saat itu ibu atau ayahnya sedang asik nonton tv, baca majalah, atau bahkan sedang bekerja. Kalau orang tua mau bersabar sedikit mengorbankan waktunya untuk buah hati mereka, langkah terbaik adalah segera bergabung dengan permainan anaknya kemudian mencari tahu permasalahan apa yang dihadapi anaknya dan segera memberkan solusi.

    “Kenapa nak? Kok mobilnya gak mau jalan? Bannya rusak ya”… “Sini papa benerin, adek tolong ambilin obeng ya”… “Nah sekarang dah bisa jalan lagi, ntar kalo rusak lagi kita benerin lagi ya, adek gak boleh teriak-teriak”. Butuh kesabaran untuk bisa mengatakan kalimat-kalimat tersebut, tapi kalau ingin punya anak penyabar bukankah orang tua harus menjadi penyabar terlebih dahulu?

0 komentar:

Posting Komentar