Hari sabtu, 22 Oktober 2011 malam, sambil menunggu pesanan ayam bakar saya baca Koran berita kota yang disediakan oleh penjual. Mengutip dari The Sun (21/10/11), Koran tersebut memberitakan bahwa ajang Miss Asia Pasific 2011 di Busan Yachting Center, Korea Selatan diwarnai isu pelecehan seksual.
Adalah Amy Willerton (19) yang mundur dari kontes tersebut karena sejumlah pria dari pihak penyelenggara kontes meminta seks kepadanya sebagai imbalan pemberian suara. Dia mengaku mendapatkan pelecehan seksual dari penyelenggara dengan mengundangnya dalam acara makan siang dan mendiskusikan mengenai pemberian suara dengan imbalan seks. Pemenang kontes itu, Park Sae Byul dari Korea Selatan dikabarkan juga mengembalikan mahkota juaranya setelah mendengar isu pelecehan seksual tersebut.
Saya sih gak terlalu memperdulikan berita itu, tapi saya jadi ingat beberapa waktu lalu saat Miss Universe 2011 mampir ke Indonesia. Sejak 3 Oktober 2011 sampai 10 hari berikutnya perempuan yang (katanya) paling ayu sejagat ini menjadi tamu special Indonesia. Ya, spesial, karena tamu satu ini dibayar Rp 100 juta perjamnya. Selama 10 hari kunjungannya berarti bangsa Indonesia sudah membuang uang Rp 24 milyar. Ya, saya katakana membuang uang karena uang sebesar itu sanggup untuk merenovasi ratusan sekolah-sekolah yang ambruk dan membiayai ratusan anak-anak putus sekolah.
Apa sih pentingnya seorang Miss Universe sampai negara kita rela mengeluarkan uang sedemikian besar buat mengundangnya?
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah penting kita ikut-ikutan kontes-kontes semacam itu?
Sejak kontroversi keikutsertaan Alya Rohali dalam Miss Universe 1996, Indonesia baru mengirimkan kembali utusannya ke ajang tersebut pada tahun 2005, yaitu Artika Sari Devi. Saat itu sebagian (besar) masyarakat yang masih peduli akan moral bangsa melakukan penolakan. Tapi pemerintah memberi ijin dengan alasan bahwa keikutsertaan perempuan Indonesia akan memberikan kebanggaan nasional dan sebagai duta pariwisata untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.
Alasan yang terkesan indah tapi sungguh sangat picik. Mengirim perempuan Indonesia untuk pamer tubuh dengan baju renang sebagai duta wisata adalah pelecehan dan penghinaan besar terhadap keindahan alam Indonesia. Kekayaan alam Indonesia dengan segala keindahannya adalah luar biasa. Sudah banyak dikagumi oleh warga dunia di segenap penjuru.
Ketidakbecusan pemerintahlah yang membuat potensi pariwisata Indonesia tidak tergali maksimal. Ada banyak cara untuk mempromosikan keindahan Indonesia ke level internasional tanpa harus menjadikan sebagian perempuannya pamer tubuh untuk dilihat banyak lelaki di seluruh dunia.
Para pendukung kontes2 ini tentu tidak setuju kalau kontes ini disebut hanya ajang pamer tubuh. Mereka beralasan bahwa kecerdasan dan tingkah laku mereka juga dinilai (brain, beauty, and behavior). Benarkah demikian? Dari definisinya sendiri Miss Universe adalah sebuah ajang kontes kecantikan internasional (http:// en.wikipedia.org/wiki/Miss_Universe). Logika sederhananya, kalau ada perempuan yang sangat cerdas dengan tingkah laku elegan, berwajah cantik, tapi jerawatan dan tinggi "hanya" 150cm apakah bisa ikut kostes-kontes semacam itu?
Bagi para pendukung pengiriman perempuan Indonesia ke ajang pamer tubuh internasional dengan alasan duta wisata, adakah data statistik yang menggambarkan peningkatan kunjungan wisata ke Indonesia sebagai hasil mengikuti kontes-kontes tersebut. Sedangkan Malaysia dan Singapura setelah mengeluarkan juataan dolar untuk promosi wisata negaranya melalui iklan di media baru dapat merasakan hasilnya. Filipina yang pernah memperoleh mahkota Miss Universe dua kali pun masih terseok-seok potensi wisatanya.
Kemana tujuan wisata anda di Eropa? Pranciskah? Apakah anda mengenal keindahan kota Paris dari Miss France? Tentu tidak kan?
Ketika saya sempat tinggal di Ankara, Turki, saya mempunyai rekan kerja orang Turki yang punya pekerjaan sambilan sebagai instruktur selam. Sewaktu liburan musim panas, dia berlibur dua minggu di Bunaken. Setelah kembali saya tanya dia, "Kenapa kamu liburan jauh-jauh ke Bunaken?" jawabnya "Gak ada penyelam profesional yang gak kenal Bunaken". Ketika saya kerja di Iran, orang-orang Iran rekan kerja saya sering menanyakan bagaimana kondisi Bali dan merencanakan berkunjung kesana. Darimana mereka kenal Bali? Tentu bukan dari nonton kontes kecantikan. Keindahan Bali sudah menyebar dari mulut ke mulut para wisatawan asing yang pulang ke negaranya masing-masing.
Benar-benar tidak ada alasan logis untuk membenarkan pendapat bahwa pengiriman perempuan Indonesia ke ajang kontes kecantikan akan meningkatkan pariwisata kita. Kalau Indonesia tidak mengirimkan dutanya apakah negara kita akan hina? Harga diri Indonesia akan turun? Tentu tidak! Kalau Indonesia mengundang Miss Universe apakah harga diri bangsa jadi naik? Kalau tidak mengundang apakah akan dicela negara lain? Tentu tidak!
Jadi buat apa mengadakan kontes-kontesan Putri Indonesia, Miss Indonesia, dan sebagainya, selain hanya menjadi korban kapitalisme?

0 komentar: